Halaqah
Bahwa masyarakat Arab pra Islam tidak mempunyai sistem pendidikan formal, adalah konteks yang akan menjadi berbeda ketika Islam lahir dan kali pertamanya berkembang—untuk menyebutnya sistem, usaha pendidikan Islam semacam ini selanjutnya dikenal sebagai bentuk transformasi besar-besaran oleh Azzumardi Azra.[1]

T.S Eliot mengungkapkan: “Masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan, dan masa depan terdapat di masa lampau.” Ungkapan ini setidaknya dapat disinggungkan pada pendidikan Islam yang secara historis berkembang di masyarakat Islam dalam bentuk dualisme sistem yang saling berhubungan: tradisional (klasik) dan sekuler (modern).[2]

Upaya integrasi kedua sistem tradisional dan sekuler ini sebenarnya tidak jelas dimulai sejak kapan, namun yang jelas pada abad ke-18 mulai nampak wujudnya yang sempurna hingga masa sekarang. Rumusan menggabungkan kualitas-kualitas kedua sistem pendidikan ini akhirnya kian umum berlaku di kalangan cendekiawan muslim guna meningkatkan kualitas siswa didik di segala aspek kehidupan; baik kualitas intelektualitas mereka, dan kualitas kritis sumber penggerak kemajuan.

Pesantren[3], dalam satu sisi yang obyektif, adalah lembaga pendidikan Islam yang mengalami langsung proses penginterasian diatas. Dalam pada itu, pesantren memiliki karakteristik persambungannya dengan watak tarekat dan masa kehidupan beragama pra-Islam di Nusantara. Dikarenakan berhubungan langsung dan memiliki karakteristik inilah yang menyebabkan pesantren memiliki sejarah masa lampau yang sangat kompleks.


Pesantren sarat dengan nilai-nilai normative, tidak peduli asal-usulnya yang serba urban. Orientasi yang serba fiqih dalam tubuh pesantren inilah yang justru mendorong makin kuatnya kedudulan nilai-nilai normative tersebut. Penghayatan yang serba normative itu memunculkan idealisme kemandirian pesantren sebagai watak utama sistem pendidikannya. Hanya saja, kemandirian lalu menjadi sesuatu yang rawan, ketika ia kehilangan tumpuan normatifnya, yakni ketika pegawai atau suruhan orang tidak dipandang buruk oleh agama. Apalagi ketika orientasi fiqih sendiri mengalami kemunduran.

Namun pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tradisional mempunyai ciri tersendiri, pesantren memiliki keilmuan tradisi yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Ia merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi para pecinta ilmu dan peneliti yang berupaya mengurai anatominya dari berbagai dimensi. Dari kawahnya sebagai obyek studi, lahir doktor-doktor dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari antropologi, sosiologi, pendidikan, politik, agama dan lain sebagainya.[4]

Tulisan ini bergulat dengan refleksi pendidikan Islam di Pondok Pesantren Tradisional dalam bentuk deskriptif. Salah satu tujuannya untuk menganalisa epistemologi Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang yang memegang teguh ketradisionalan pembelajarannya dengan model yang lebih progresif-kontekstual, dan pada saat yang sama penelitian ini bermaksud mengurai epistemologinya yang berkontribusi besar bagi eksistensi pesantren tersebut.

Problem utama pendidikan Islam saat ini, yang kemudian menjadi modus penelitian ini, adalah epistemologi. Sulit sekali dipungkiri, filsafat pendidikan yang diberikan para sarjana dan pemikir pendidikan sepenuhnya adalah filsafat pendidikan Barat, sehingga sistem pendidikan Islam sangat kental oleh pengaruh pendidikan Barat. Sedangkan diketahui bahwa pendidikan Barat dibangun diatas filsafat pendidikan yang sedikit banyak harus diakurkan terlebih dahulu dengan ajaran Islam, karena terkadang anti-metafisika yang menjadi landasan pendidikan Barat bertentangan sekali dengan keyakina pendidikan Islam yang kental dengan metafisika.

Penulis bermaksud memformulasikan epistemologi pendidikan Islam vis a vis pesantren terhadap ayat-ayat yang termasuk kategori tarbawy, yang bukan berarti memulainya dari awal atau mengulang-ulang segudang teori yang membosankan, melainkan memanfaatkan teori-teori yang relevan dengan kajian epistemologinya, khususnya epistemology pendidikan Islam pesantren dengan narasi deskriptif yang reduksional. Setidak-tidaknya itulah yang dapat disimpulkan dari upaya sementara pesantren Al-Anwar untuk menyegarkan pandangan keagamaan melalui pembelajaran Islam-nya; sebuah proses pematangan yang dimaksudkan untuk memungkinkan fiqih (atau kemandirian institusional tadi) mengintegrasikan diri ke dalam kehidupan modern tanpa terlalu banyak mengorbankan identitas dirinya sendiri.




[1] Azzumardi Azra, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains (Sebuah Pengantar), dalam. Charles Micheal Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam: Sejarah Dan Peranannya Dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Terj. H. Afandi, Hasan Asrori, (Jakarta: Logos, 1994), hlm. v

[2] Sistem pendidikan tradisional adalah sistem pendidikan yang menerapkan metode intelektual yang menunjuk pada metode yang telah diwariskan generasi-generasi Islam abad pertengahan hijriyah terdahulu yang telah mengalami polarisasi dan kristalisasi. Sedangkan sistem pendidikan modern adalah sistem pendidikan yang berusaha mengejar ketertinggalan Barat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan sistem pendidikan sekuler/sekularisme adalah faham yang memisahkan anatara ajaran dunia dengan agama, menurut faham ini dunia, baik ilmu pengetahuan, teknologi kekuasaan moral dan lainnya adalah terpisah sama sekali dengan ajaran agama. Lihat dalam Hilmi Bakar Al-Mascaty, Membangun Kembali Sistem Pendidikan Kaum Muslim, (Mataram: Universitas Islam Az-Zahra Press, 2000), hlm. 16 & 27

[3] Pondok pesantren, dua patah kata yang mengungkapkan masa lampau yang kompleks ini, dipaparkan Abdurrahman Wahid berasal dari kata funduk yang berarti tempat warga tarekat menyepi dari pola hidup sehari-hari. Sedangkan pesantren dalam pada itu menunjuk pada asal-usul pra-Islam ketika para ahli agama Hindu dan Budha mulai mendalami agama baru mereka, Islam, di bawah bimbingan ulama, guru, yang dituakan yang dalam bahasa Arab disebut syaikh dan dalam bahasa Jawa disebut Kiai. Pesantren sebenarnya merupakan lembaga perkotaan, sebab pusat-psat kehidupan muslimin pada mula sejarahnya berada di pulau Jawa, terletak di pesisir sebelah utara, di kota-kota perdagangan. Dan pesantren sebagai tempat mencari ketenangan justru terletak di tengah kesibukannnya, seperti Sinagog Yahudi, atau Biara Budha di Asia Tenggara, bukan seperti Kristen di Timur Tengah dahulu, yang letaknya di tengah kesepian gurun. Lihat dalam Abdurrahman Wahid, Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Yogyakarta: LKiS, 2012), hlm. 55

[4] Ahmad Qodri Abdillah Azizy, Memberdayakan Pesantren Dan Madrasah, dalam Ismail SM, dkk (editor), Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2002), hlm. vii
 
Rumail Abbas © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top