Bahkan Ibnu Sina pun perlu empat puluh kali membaca, namun masih belum paham juga
![]() |
| Ibn Sina dan Penjual Kitab (ilustrasi: gemini) |
Tahukah kalian bahwa Ibn Sina pernah membaca kitab Metafisika empat puluh kali sampai hafal di luar kepala, tetapi tetap tidak paham isinya?
Kisah ini diceritakan Ibn Sina sendiri tentang masa mudanya di Bukhara. Muridnya, Abu Ubaid al-Juzjani, mencatatnya, lalu Ibn Abi Usaibi'ah menyalin catatan itu ke dalam biografinya.
Pada usia enam belas tahun ia mulai mendalami kedokteran. Selama satu setengah tahun berikutnya ia mengulang logika dan seluruh bagian filsafat tanpa pernah tidur semalam penuh.
Setiap kali buntu pada satu masalah, ia pergi ke masjid jami, salat, dan memohon sampai yang tertutup terbuka.
Masalahnya, ketika beralih ke ilmu ketuhanan dan membaca kitab Metafisika, ia tidak paham isinya dan tujuan penulisnya. Ia mengulang bacaannya empat puluh kali sampai hafal, tetapi tetap tidak paham. Ia putus asa dan berkata bahwa kitab ini tidak ada jalan untuk dipahami.
Suatu hari, pada waktu asar, ia berada di deretan al-warraqin, atau para penjual dan penyalin buku. Seorang calo memegang sebuah jilid dan menawarkannya dengan berteriak.
Ibn Abi Usaibi'ah menukil penuturan Ibn Sina dalam Uyun al-Anba fi Tabaqat al-Atibba:
"Ia menawarkannya kepadaku, dan aku menolaknya dengan jengkel, karena yakin tidak ada gunanya ilmu ini. Ia berkata, 'Belilah ini dariku, harganya murah, kujual tiga dirham, dan pemiliknya sedang butuh uangnya.' Maka aku membelinya, dan ternyata itu kitab Abu Nashr al-Farabi tentang maksud-maksud kitab Metafisika. Aku pulang ke rumah dan bergegas membacanya. Seketika terbukalah bagiku maksud kitab itu, karena kitab itu sudah kuhafal di luar kepala."
Uniknya, al-Farabi dan Ibn Sina tidak pernah bertemu. Jilid seharga tiga dirham itulah satu-satunya pertemuan mereka yang tercatat dalam kisah ini.
Ibn Sina gembira, dan keesokan harinya ia bersedekah banyak kepada fakir miskin sebagai syukur kepada Allah.
Tidak lama kemudian Sultan Bukhara, Nuh bin Manshur, jatuh sakit dan para tabib kebingungan. Nama Ibn Sina disebut di hadapan sultan, lantas ia ikut mengobati, lalu meminta izin masuk ke perpustakaan istana yang berisi peti-peti kitab. Ia mengaku selesai dengan semua ilmu itu pada usia delapan belas tahun.
Empat puluh kali pengulangan tidak "membuka" (futuh) kitab itu. Yang membukanya adalah penjelasan orang lain, dalam sebuah jilid yang hampir ia tolak karena sudah putus asa.
Akan tetapi, hafalan yang ia kumpulkan tidak sia-sia. Hafalan itulah yang membuat penjelasan al-Farabi langsung bekerja begitu dibaca.
Ada yang pernah mengalaminya?
Membaca sesuatu sampai hafal (tapi masih gak paham), tapi kelak hafalan itu malah tahqiq secara tiba-tiba?
Guru saya bilang: "itu namanya kefutuh"
