Nasab Raja Yordania kerap dinilai sebagai sampel terbaik dari semua Sadah untuk menjelajahi yDNA Imam Ali bin Abi Thal
![]() |
| Presiden Indonesia & Raja Yordania (dibuat oleh: Gemini) |
Saya akhirnya membaca artikel Ki Imad, berjudul "Nasab Keluarga Raja Yordan Lulus Uji Kitab Nasab dan DNA" dan "Rumail Kembali Berdusta: Tidak Takut Berdosa Berbohong Atas Nama Keturunan Nabi Muhammad Saw Yang Asli".
Tulisan sampah! Hhe~
Untuk kali ini, kita pakai saja silsilah Raja Yordania versi Arab yang sudah ditandatangani, bukan versi bahasa Inggris yang saya pakai sebelumnya:
1. Nabi Muhammad Saw.
2. Fatimah Az-Zahra
3. Hasan Al-Mujtaba
4. Hasan Al-Mutsanna
5. 'Abdullah Al-Mahdi
6. Musa Al-Jun
7. 'Abdullah Ar-Ridha
8. Musa al-Tsani
9. Muhammad Ats-Tsa'ir
10. 'Abdullah al-Akbar
11. 'Ali As-Salami
12. Sulaiman
13. Husein
14. 'Isa
15. 'Abdul Karim
16. Mutha'in
17. Idris (Amir Makkah)
18. Qatadah (Amir Makkah)
19. 'Ali Al-Akbar
20. Hasan Abu Sa'ad (Amir Makkah)
21. Muhammad Abu Numai Al-Awwal (Amir Makkah)
22. Rumaitsah (Amir Makkah)
23. 'Ajlan (Amir Makkah)
24. Hasan (Amir Makkah)
25. Barakat Al-Awwal (Amir Makkah)
26. Muhammad (Amir Makkah)
27. Barakat al-Tsani (Amir Makkah)
28. Muhammad Abu Numai al-Tsani (Amir Makkah)
29. Hasan (Amir Makkah)
30. 'Abdullah (Amir Makkah)
31. Husein
32. 'Abdullah
33. Muhsin
34. Syarif 'Aun (Datuk Asyraf Marga Al-'Auni)
35. 'Abdul Mu'in
36. Muhammad (Amir Makkah)
37. 'Ali (Amir Makkah)
38. Syarif Husein (Amir Hijaz)
39. Syarif Abdullah Al-Awwal
40. Syarif Thalal
41. Syarif Husein
42. Raja Abdullah II (Raja Jordania)
Padahal, kedua versi benar-benar ada di situs resmi, tapi justru Ki Imad menuduh saya berdusta.
Intinya, Ki Imad bilang nasab keluarga Yordania itu sahih dan valid, tercatat dari masa ke masa.
Pertanyaannya: masa ke masa yang mana?
Saya Bagi Empat Ruas
Supaya tidak keliru, 42 nama itu saya bagi menjadi empat ruas: Nabi Muhammad sampai Musa al-Tsani, delapan nama; Muhammad al-Tsa'ir sampai Idris, sembilan nama; Qatadah sampai Barakat al-Awwal, delapan nama; sisanya sampai Raja Abdullah II.
Ruas pertama sudah dicatat di kitab-kitab tertua. Kitab Nasab Quraisy karya al-Zubairi (w. 236), pada juz 1 halaman 55, menulis:
وولد موسى بن عبد الله: عبد الله بن موسى، المتغيب اليوم بالمدينة؛ وأمه وإخوته: أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق.
Sengaja saya cantumkan karena kata al-yaum (hari ini) menunjukkan penulisnya semasa dengan orang yang dicatatnya, sekaligus karena ia menyebut nama ibunya.
Nama yang sama, lengkap dengan nama ibunya, muncul lagi di al-Aqiqi (w. 277). Dalam Kitab al-Mu'aqqibin min Wuld al-Imam Amir al-Mu'minin, pada halaman 13, ia menulis:
والعقب من ولد موسى بن عبد الله بن الحسن من : عبد الله (1) وإبراهيم (2) ابني موسى بن عبد الله ، وأمهما : أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر بن أبي قحافة .
Maqatil al-Thalibiyin (w. 356), pada juz 1 halaman 498, juga menyebutnya bersama ibunya, meski rantai ibu di situ melompati satu nama:
وعبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن ابن علي بن أبي طالب عليهم السلام وأمه أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الرحمن بن أبي بكر
Perhatikan bahwa "bin Abdullah" antara Thalhah dan Abdurrahman tidak ada di sini, padahal ada di dua kitab sebelumnya.
Selisih semacam ini akan sering muncul di bagian belakang tulisan ini, jadi saya sebutkan sejak awal supaya pembaca tidak asing dengan hal ini.
Tahdzib al-Ansab (w. 435), pada halaman 39 memuat nama ibunya juga:
والعقب من ولد موسى الجون بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب صلوات الله عليهم، من رجلين: عبد الله بن موسى [السويقي] وإبراهيم بن موسى، أمهما أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر عتيق بن أبي قحافة.
Sirr al-Silsilah al-Alawiyah (w. 341) melangkah satu generasi di atasnya, sampai Musa al-Tsani, sekaligus menyebut ibunya. Pada juz 1 halaman 10:
ولد موسى الجون ابن عبد الله المحض - عبد الله بن موسى أمه أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمان بن أبي بكر الصديق ، وموسى ابن عبد الله بن موسى بن عبد الله ، وأمه بنت طلحة الفزارية ،
Musa yang disebut belakangan itulah nomor 8 pada daftar di atas, yaitu Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah, meski petikan ini tidak memakai gelar al-Tsani. Ibunya disebut putri Thalhah al-Fazariyah.
Jamharah Ansab al-Arab karya Ibn Hazm (w. 456) melengkapinya lagi. Pada juz 1 halaman 47:
ومنهم: جعفر ابن محمّد بن الحسن بن محمّد بن موسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علىّ بن أبى طالب، الذى غلب على مكّة أيام الإخشيديّة.
Kalau rantai itu kita naikkan, urutannya menjadi: Musa al-Jaun, lalu Abdullah, lalu Musa yang menjadi nomor 8, lalu Muhammad yang berada di posisi nomor 9.
Artinya kitab abad kelima ini sudah menyentuh ruas kedua, bahkan menyebut seorang keturunannya yang menguasai Makkah di masa Ikhsyidiyah.
Hanya saja Ibn Hazm menulis "Muhammad bin Musa" tanpa gelar apa pun, sehingga tidak jelas Muhammad yang mana yang ia maksud.
Nanti akan kelihatan mengapa keterangan itu penting.
Maqatil al-Thalibiyin bahkan menyediakan sesuatu yang tidak tersedia di kitab yang telah disebutkan, yaitu tanggal. Pada juz 1 halaman 530, Abu al-Faraj al-Ishfahani lebih dulu memastikan siapa yang sedang ia bicarakan:
وموسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب.
Susunan ini persis nomor 8 sampai nomor 3 pada daftar di atas. Lalu pada halaman berikutnya ia mencatat akhir hidupnya:
فلما كان بزبالة دس إليه سما فقتله، وأخذ رأسه وحمله إلى المهتدي في المحرم سنة ست وخمسين ومائتين
Ia diracun di Zubalah, kepalanya dibawa kepada al-Muhtadi pada bulan Muharam tahun 256 Hijriyah. Jadi untuk ruas ini kita bahkan punya tanggal kematian, bukan sekadar nama saja.
Singkatnya, untuk delapan nama ini: beres.
Persengketaan
Musa al-Tsani (8) punya dua anak bernama Muhammad al-Akbar dan Muhammad al-Ashghar al-A'rabi, dan keduanya punya anak bernama Abdullah.
Muhammad al-Akbar inilah yang di dalam silsilah Raja Yordania ditulis dengan sebutan Muhammad Ats-Tsa'ir (9).
Sesuai nasab Raja Yordania yang saya tulis di awal, silsilahnya berjalan lewat Abdullah (10) anak Muhammad al-Akbar (9), bukan lewat Abdullah anak Muhammad al-Ashghar.
Tahdzib al-Ansab karya al-Ubaidili (w. 435), kitab yang dikutip Ki Imad pada kutipan pertama, membedakan kedua nama ini. Pada halaman 46 ia menulis:
والعقب من ولد موسى الثاني بن عبد الله بن موسى الجون من أربعة عشر رجلاً: محمد بن موسى وفيه أفخاذ، والحسن وفيه أفخاذ، وعلي، وإدريس، وصالح وأحمد ويحيى، ويوسف، وداود، ومحمد الأصغر، وحمزة؛ وانقرض، وعبد الله؛ وانقرض، وإبراهيم؛ وانقرض، وسليمان؛ وانقرض. فأما حمزة وعبد الله وإبراهيم وسليمان فانقرضوا واتصل عقب عشرة رجال.
Silakan hitung sendiri. Ada empat belas nama. Muhammad bin Musa (9) berada di urutan pertama daftar itu, sedangkan Muhammad al-Ashghar berada di urutan kesepuluh.
Coba kita baca kutipan pertama Ki Imad:
والعقب من ولد أبي عبد الله محمد الأصغر وهو الأعرابي من: [أبي علي] أحمد الأعرج وفيه عدد ومن عبد الله بن محمد [أبي الزوائد]
Saya cantumkan lengkap dengan kurung sikunya. Dan jelas yang dibicarakan al-Ubaidili di sini adalah Muhammad al-Ashghar, yang berada di urutan kesepuluh daftar tadi, bukan Muhammad al-Akbar (9) yang berada di urutan pertama.
Kutipan kedua dari al-Syajarah al-Mubarakah (w. 606 H) dan ketiga dari al-Fakhri (w. 614 H) ternyata membicarakan orang yang sama, dan keduanya merinci al-Akbar serta al-Ashghar dalam paragraf terpisah.
Padahal Ki Imad seharusnya mengutip redaksi yang benar-benar membicarakan leluhur Raja Yordania, yang berada di halaman 47 pada kitab yang sama:
والعقب من ولد عبد الله بن محمد الأكبر بن موسى بن عبد الله الثاني بن موسى الجون من ثلاثة نفر: علي بن عبد الله وله أولاد، ومحمد بن عبد الله، يلقب ثعلبا قتل، وله ولد [له] أولاد، وأحمد بن عبد الله وله أولاد.
Ada tiga nama di situ: Ali (11), Muhammad Tsa'lab, dan Ahmad. Persis daftar yang dipakai al-Ashili untuk leluhur Qatadah (18). Inilah baris yang seharusnya ia tampilkan.
Jadi, kekeliruan Ki Imad yang pertama adalah: salah sasaran.
Namun, sayangnya antara Tahdzib al-Ansab dan al-Syajarah al-Mubarakah ada kitab nasab berjudul Lubab al-Ansab karya Ibn Funduq al-Baihaqi (w. 565):
عبد الله بن محمد بن موسى الثاني، لا عقب له بالاتفاق
Al-Baihaqi menyatakan Abdullah bin Muhammad bin Musa al-Tsani (8) tidak berketurunan, bahkan memakai kata "menurut kesepakatan".
Pertanyaannya: siapa Abdullah ini? Apakah ia Abdullah al-Akbar (10) yang menjadi leluhur Raja Yordania, ataukah Abdullah yang lain, yaitu anak Muhammad al-Ashghar?
Pertama, Lubab al-Ansab ternyata mengenal Muhammad al-Ashghar. Pada halaman 226 ia bahkan memberi uraian tersendiri tentangnya:
هو أبو عبد اللّه محمّد الأصغر بن موسى الثاني بن عبد اللّه السويقي له عدد وجماعة بالحجاز والبادية من الامراء والاجلّاء يقال لهم : بنو الاعراب
Ketika Lubab memaksudkan Muhammad al-Ashghar, ia menyebutkan gelarnya, kunyah-nya, bahkan nama julukan keturunannya.
Sementara "Muhammad bin Musa al-Tsani" disebut tanpa gelar apa pun di halaman 39, oleh karena itu lebih masuk akal menunjuk saudaranya, yaitu Muhammad al-Akbar (9).
Lubab menyatakan al-Ashghar berketurunan banyak di Hijaz dan pedalaman, disebut Banu al-A'rab. Sementara menurut al-Ubaidili yang dikutip Ki Imad sendiri, salah satu jalur keturunan Muhammad al-Ashghar justru lewat Abdullah bin Muhammad.
Baik yang dimaksud Lubab adalah putra al-Akbar maupun putra al-Ashghar, akan tetapi keterangan itu bertentangan dengan al-Ubaidili yang mencatat keturunan masing-masing.
Kedua, nama Musa al-Tsani di dalam Lubab hanya menunjuk dua identitas yang bisa dipastikan: Musa al-Tsani (8) yang Hasani, dan Musa bin Ibrahim bin Musa al-Kazim yang Husaini di halaman 68. Raja Yordania jelas mengklaim sebagai zuriah Imam Hasan bin Ali (3).
Ketiga, teks-teks di sekitar silsilah itu merupakan keluarga besar Musa al-Jaun (6):
- Hamzah, Abdullah, Ibrahim, dan Sulaiman putra Musa al-Tsani (8);
- Ibrahim bin Musa bin Abdullah bin Musa; Hasan bin Musa al-Tsani (8);
- Husain bin Idris bin Musa al-Tsani (8);
- Isa dan Ahmad dua putra Husain bin Muhammad bin Musa;
- Muhammad bin Musa bin Abdullah bin Musa al-Jaun (6).
Di sela-selanya ada pula Hamzah bin Idris bin Thahir dan Ismail bin Thahir bin Idris, dan tepat sesudah blok itu teksnya beralih kepada Ismail bin Ibrahim bin Musa al-Jaun (6).
Semuanya Hasani!
Jadi Musa al-Tsani di teks Abdullah di atas tidak lain adalah Musa al-Tsani (8) yang menjadi leluhur Raja Yordania.
Keempat, kebiasaan Lubab sendiri menetapkan siapa "Muhammad bin Musa" di sini.
Pada halaman yang sama, halaman 39, Ibn Funduq menulis:
عيسى وأحمد أمير مكة ابنا الحسين بن محمد بن موسى، لا عقب لعيسى، واختلفوا في عقب أحمد.
Gelar amir Makkah di situ melekat pada Ahmad, bukan pada Isa, dan bukan pula pada ayah mereka. Artinya Ahmad amir Makkah adalah cucu dari "Muhammad bin Musa" lewat Husain.
Jadi bagi Lubab, "Muhammad bin Musa" tanpa julukan itu berarti Muhammad Ats-Tsa'ir (9), datuk para amir Makkah. Ini sekaligus Muhammad yang sama dengan yang disebut Tahdzib dan al-Syajarah sebagai ayah Abdullah (10).
Kelima, pasal ini memang pasal tentang garis yang tidak berlanjut. Judulnya, pada halaman 34, berbunyi:
فصل الدارجين وغير المعقبين من الطالبين
Jadi Abdullah (10) memang diletakkan di dalam pasal orang yang garis keturunannya tidak berlanjut.
Keenam, pada halaman 65 Lubab menyebut lima anak Abdullah al-Ridha (7):
والعقب من عبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن رضي الله عنه خمسة: سليمان، وموسى، وصالح، ويحيى السويقي، وأحمد الأحمدي.
Musa yang disebut kedua di situ adalah Musa al-Tsani (8). Tetapi yang dirinci sesudahnya bukan garisnya, melainkan garis Yahya al-Suwaiqi, dan itu pun dalam rangka menerangkan seorang naqib di Tiflis, bukan dalam bab umum tentang siapa saja yang berketurunan.
Kesimpulannya, mau siapa pun Abdullah yang dimaksud Lubab, sayangnya Tahdzib dan al-Syajarah memberi keturunan pada keduanya, sehingga abad keenam bertentangan dengan abad kelima dan ketujuh sekaligus karena dinyatakan: tidak berketurunan menurut mufakat.
Logika Imaduddin
Ki Imad pernah membatalkan nasab sebuah kabilah dengan cara begini: nama Abdullah sebagai anak Ahmad al-Abah bin Isa ia nyatakan sebagai rekayasa belakangan, sebab kitab-kitab nasab yang lebih tua hanya menulis Muhammad, Ali, dan Husain, sedangkan Abdullah baru muncul di kitab nasab abad kesembilan.
Pertanyaan saya: apakah logika yang sama bisa meloloskan silsilah Raja Yordania?
Disebut Bani Qatadah karena keturunan Qatadah. Sedikit sekali informasi tentangnya yang saya dapatkan dari masa yang sama. Yang paling dekat adalah Kitab al-Takmilah li-Wafayat al-Naqalah yang menempatkan Qatadah di bawah tahun 617 H, dan menyebut umurnya:
ويقال: إنه بلغ تسعين سنة
Kata yuqal, yang berarti "dikatakan", memang menandai berita ini tidak pasti. Dan kitab ini pun menyediakan alternatifnya: wafat pada tahun 618 H. Namun kalau angka 90 itu kita pakai, maka Qatadah lahir sekitar tahun 527 H.
Dengan jarak ayah-anak 25 sampai 33 tahun, maka Isa (14) lahir sekitar tahun 395 sampai 427, Husain (13) sekitar tahun 362 sampai 402, dan Sulaiman (12) sekitar tahun 329 sampai 377. Artinya ketiganya hidup di rentang abad keempat sampai awal abad kelima.
Tapi sayangnya kitab al-Takmilah bukanlah kitab nasab, tapi tarajim.
Dan dari semua kitab nasab yang semasa dengan mereka, ternyata tidak ada satupun yang memuat rangkaian nasab Isa (14) bin Husain (13) bin Sulaiman (12) bin Ali (11), silsilah yang menjadi mata rantai keluarga Yordania di atas.
Hasilnya nol pada sembilan kitab nasab yang semasa dengan ketiga nama itu: Sirr al-Silsilah al-Alawiyah (w. 341 H), Maqatil al-Thalibiyin (w. 356 H), Tahdzib al-Ansab (w. 435 H), Jamharah Ansab al-Arab (w. 456), al-Majdi (abad kelima), Muntaqilah al-Thalibiyah (abad kelima), Lubab al-Ansab (w. 565), al-Syajarah al-Mubarakah (w. 606), dan al-Fakhri (w. 614).
Hasilnya nol untuk: Sulaiman, Husain, dan Isa!
Tidak hanya nol, bahkan mata rantainya pun tidak lengkap. Saya mendapati nama Mutha'in (16) tidak ditulis di sebagian besarnya, dan susunan "Qatadah (18) bin Idris (17)" nyaris tidak disebutkan di seluruhnya.
Empat dari sembilan kitab itu adalah Tahdzib al-Ansab, al-Majdi, Muntaqilah al-Thalibiyah, dan al-Syajarah al-Mubarakah, kitab yang dipakai Ki Imad sendiri untuk membatalkan Abdullah bin Ahmad bin Isa (leluhur Bani Alawi).
Saya juga tidak menemukan tahun lahir, tahun wafat, jabatan, peristiwa yang pernah mereka alami, sebab kematian, tempat wafat, letak makam, nama ibu, nama istri, guru, maupun murid, untuk ketiganya sekaligus. Yang berhasil saya kumpulkan hanya kunyah (julukan), itu pun datang belakangan sekali.
Al-Tsabt al-Mushan karya al-A'raji (w. 787) pada juz 1 halaman 317 menulis:
أبو عبداللَّه سليمان بن علي ابن السلمية
Sedangkan kunyah untuk dua nama sesudahnya baru saya temukan di Unwan al-Zaman karya al-Biqa'i (w. 885), juz 4 halaman 34, itu pun sedang menuliskan nasab orang lain:
عبد الكريم بن أبي فاضل عيسى بن أبي على حسين بن سليمان بن علي
Jadi Isa dipanggil Abu Fadhil dan Husain dipanggil Abu Ali, dan uniknya keterangan itu datang lima abad sesudah keduanya diperkirakan hidup.
Selebihnya kosong.
Kalau standar Ki Imad adalah "tercatat oleh orang yang semasa", maka ketiga nama ini bahkan tidak menyediakan bahan sama sekali.
Dan yang paling menarik justru al-Syajarah al-Mubarakah, kitab andalan Ki Imad sendiri. Kitab ini malah menawarkan susunan yang berbeda dari versi resmi Raja Yordania. Pada juz 1 halaman 8-9 tertulis:
وأما عبد الله الأصغر ، فله عقب بمكة وينبع ، منهم : الفقيه أبو البشر ابن الحسين بن علي بن عبد الله الأصغر ، وابنه جعفر الزاهد العالم النسابة بمكة
Tokoh yang disebut di situ adalah Abu al-Bisyr, dan anaknya bernama Ja'far yang zahid, alim, dan ahli nasab di Makkah. Bandingkan dengan al-Ashili juz 1 halaman 103, yang menyusun keluarga yang sama:
وأمّا الحسين بن سليمان ، فعقبه من ثلاثة رجال : أبو البشر الضحّاك ، وعلي ، وعيسى . وعقب أبي البشر الضحّاك من ولده: جعفر
Lalu al-Ashili menerangkan siapa Ja'far ini:
أمّا جعفر بن أبي البشر ، فهو النسّابة الفاضل صاحب الحكاية ، وهو من ينبع
Sama-sama Abu al-Bisyr, sama-sama beranak Ja'far, sama-sama ahli nasab, dan sama-sama di lingkungan Makkah dan Yanbu.
Bedanya, al-Ashili menaikkan Abu al-Bisyr kepada Husain bin Sulaiman bin Ali, sedangkan al-Syajarah menaikkannya kepada Husain bin Ali bin Abdullah al-Ashghar.
Sulaiman (12) tidak ada sama sekali di situ, dan Abdullah-nya disebut al-Ashghar, bukan al-Akbar.
Saksi Pertama
Yang pertama memuat rantai Raja Yordania melalui Sulaiman (12) ternyata bukan datang dari kitab nasab, namun baru muncul dari kitab tarajim karya al-Mundziri yang wafat 656 H (Juz 3, hlm. 17):
إدريس بن مطاعن بن عبد الكريم بن عيسى بن حسين بن سليمان بن علي بن عبد الله بن محمد بن موسى
Pada halaman yang sama, al-Mundziri menerangkan dari mana ia memperolehnya:
أملى علي نسبه كما ذكرته أخوه الشريف الأجل أبو موسى عيسى بن إدريس حين قدم مصر
Jadi nasab itu didiktekan kepadanya oleh Isa bin Idris, saudara kandung Qatadah, ketika datang ke Mesir. Dengan kata lain, nama ini diusulkan oleh keluarga internal, bukan dari ahli nasab yang lebih tua, yang kemudian dicatat oleh seorang ahli hadis di Mesir.
Saksi kedua pun bukan kitab nasab.
Tarikh al-Mustabshir karya Ibn al-Mujawir (w. setelah 626 H), sebuah kitab buldan, pada juz 1 halaman 21 menulis:
ذكر ولاة مكة من آل الحسن بن علي بن أبي طالب. والأمير حسن بن قتادة بن إدريس بن مطاعم بن عبد الكريم بن عيسى بن الحسين بن سلمان بن علي بن عبد الله بن موسى الجون
Ketiga nama itu ada, walaupun ruas di atas Ali jauh lebih pendek, dan Mutha'in ditulis Mutha'im.
Silsilah itu akhirnya mapan setelahnya, tanpa ada kesaksian yang baru. Al-Dzahabi (w. 748 H) di dalam Tarikh al-Islam juz 13 halaman 513, dan jelas bukan kitab nasab, menutup nasab itu begini:
أملى علي نسبه أخوه الشريف عيسى؛ فذكر ما تقدم
Dan al-Fasi (w. 832 H) di dalam al-Iqd al-Tsamin juz 5 halaman 471 menulis hal yang sama:
وأن أخاه أبا موسى عيسى بن إدريس، أملى عليه نسبه هذا، يعنى الذى ذكرناه حين قدم مصر
Keduanya mengulang laporan pendiktean yang sama, dan keduanya menyebut al-Mundziri sebagai sumbernya.
Jadi ini bukan tiga kesaksian yang berdiri sendiri, melainkan satu kesaksian yang dikutip tiga kali dari sumber yang sama. Dan kesaksian itu, sekali lagi, berasal dari informasi internal keluarga Qatadah sendiri.
Kitab nasab pertama yang menyebutnya adalah Thurfat al-Ashhab fi Ma'rifat al-Ansab karya Malik al-Asyraf Umar al-Rasuli (w. 696 H), pada juz 1 halaman 111:
قتادة بن إدريس بن مطاعن بن سليمان بن عبد الكريم بن عيسى بن سليمان بن موسى
Uniknya, jika dibandingkan silsilah Raja Yordania sekarang, ternyata Husain (13) tidak ada di situ. Sulaiman (12) justru muncul dua kali, satu di antara Mutha'in (16) dan Abdul Karim (15), satu lagi tepat di atas Isa (14). Dengan perkiraan kelahiran tadi, Isa (14) berjarak sekitar 269 sampai 301 tahun dari kitab nasab pertama ini, dan Sulaiman (12) sekitar 319 sampai 367 tahun.
Saya sengaja menandai ini, sebab pada halaman berikutnya kitab yang sama memang memuat susunan yang lebih mirip dengan versi sekarang, hanya saja susunan itu berada di catatan penyuntingnya, dengan rujukan terbitan Mekka tahun 1888.
Jadi bukan tulisan pengarang yang wafat 696 H.
Kitab nasab pertama yang memuat ketiganya utuh, lengkap dengan uraian anak masing-masing seperti versi sekarang, adalah kitab al-Ashili karya Ibn al-Thaqthaqi (w. 709 H).
Menurut pengantar penyuntingnya (muhaqqiq), kitab ini mulai disusun tahun 698 H. Pada juz 1 halaman 102 ia menulis:
وأمّا سليمان بن علي ابن السلمية ، فأعقب من أربعة رجال : محمّد الأزرق ، وأحمد ، وإبراهيم ، والحسين .
Husain di ujung daftar itulah nomor 13. Lalu pada halaman 104:
وأما عيسى بن الحسين بن سليمان ، فله ستّة أولاد : جعفر ، وأبو الحسين ، وعبد اللّه ، والحسين ، وسريع ، وعبد الكريم .
ولعبد الكريم ولدان : عبد اللّه ، ومطاعن .
Baru di kitab inilah ketiga nama itu tertulis memiliki keturunan oleh pengisbatan ahli nasab: Isa (14) beranak Abdul Karim (15), dan Abdul Karim beranak Mutha'in (16), ayah Idris (17) sekaligus kakek Qatadah (18).
Disusul kitab al-Tsabt al-Mushan (w. 787) juz 1 halaman 319 menulis:
ومنهم : أبو عزيز قتادة بن إدريس بن مطاعن بن عبد الكريم بن عيسى بن الحسين المذكور
Kemudian kitab Umdat al-Thalib karya Ibn Inabah (w. 828) juz 1 halaman 141 menulis:
ابن عبد الكريم بن عيسى بن الحسين المذكور
Keduanya sama-sama berhenti pada kata al-madzkur, yang telah disebutkan, yakni menunjuk kembali kepada uraian Husain bin Sulaiman di halaman sebelumnya.
Jadi kitab nasab baru benar-benar memapankan rantai ini pada abad kedelapan dan kesembilan.
Singkatnya: ada nama di dalam silsilah Raja Yordania sekarang yang baru ditulis kitab nasab ratusan tahun sesudah orangnya diperkirakan hidup.
Dengan patokan al-Ashili yang mulai disusun tahun 698, maka Isa (14) berjarak sekitar 271 sampai 303 tahun, Husain (13) sekitar 296 sampai 336 tahun, dan Sulaiman (12) sekitar 321 sampai 369 tahun.
Sesudah Muncul pun Tidak Tetap
Meskipun dicatat hampir tiga abad setelahnya, dan baru mapan setelahnya, ada satu lagi fakta menarik: terdapat tiga nama problematik yang tidak begitu stabil.
Dari silsilah Raja Yordania sekarang, nama Husain (13) ternyata tidak ada di dalam al-Anwar fi Nasab Al al-Nabi al-Mukhtar (w. 758 H), Qala'id al-Juman (w. 821 H), Nihayat al-Arab fi Ma'rifat Ansab al-Arab (w. 821 H), dan al-Nafhah al-Anbariyah (abad kesembilan).
Keempatnya kitab nasab, dan kalau Thurfat al-Ashhab tadi ikut dihitung, jumlahnya menjadi lima.
Qala'id al-Juman bahkan menghilangkan Husain (13) dan Sulaiman (12) sekaligus. Tempat yang kosong itu lalu diisi nama Musa, orang yang tidak ada pada posisi itu di dalam silsilah yang ditandatangani.
NB: Nihayat al-Arab yang menghilangkan Husain adalah karya al-Qalqasyandi tentang nasab Arab, bukan Nihayat al-Arab fi Funun al-Adab karya al-Nuwairi (w. 733 H) yang justru memuat ketiganya dengan utuh.
Kitab-kitab di luar kitab nasab pun melakukan hal serupa. Husain (13) hilang di Masalik al-Abshar karya Ibn Fadhlillah al-Umari (w. 749 H), al-Wafi bil-Wafayat karya al-Shafadi (w. 764 H), Shubh al-A'sya (w. 821 H) pada juz 4 halaman 277, dan Inba' al-Ghumr (w. 852 H) pada juz 1 halaman 115.
Ibn Khaldun (w. 808 H) bahkan tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Pada juz 4 halaman 135 ia menulis:
مطاعن بن عبد الكريم بن يوسف بن عيسى بن سليمان
Posisi Husain (13) diisi Yusuf. Pada halaman 145 posisi yang sama diisi Musa, sedangkan pada halaman 16 selain diisi Musa ia juga menyisipkan satu Muhammad di antara Isa (14) dan Sulaiman (12), nama yang tidak ada di posisi itu dalam silsilah sekarang.
Al-Maqrizi (w. 845 H) juga begitu. Di dalam al-Suluk juz 1 halaman 325 ia menulis Husain, di juz 7 halaman 218 ia menulis Hasan, dan di juz 4 halaman 393 ia membuang Husain lalu memasang Musa. Bacaan Hasan itu diulanginya di Durar al-Uqud, Rasail al-Maqrizi, dan Fadhl Al al-Bayt.
Yang lebih unik lagi adalah al-Manhal al-Shafi karya Ibn Taghribirdi (w. 874 H), yang pada juz 3 halaman 343 menulis Husain, namun pada juz 6 halaman 340 menulis Hasan.
Nama Sulaiman (12) pun begitu.
Dua berkas Tarikh al-Mustabshir (w. 690 H) tidak sepakat satu sama lain. Satu menulis Sulaiman dan satu lagi menulis Salman, padahal kitabnya sama. Al-Muqaffa al-Kabir (w. 845 H) juz 3 halaman 385 menulisnya dengan Sulaym. Isa (14) ditulis dua kali berturut-turut di al-Nujum az-Zahirah (w. 874 H) juz 12 halaman 144, meski di juz lain kitab yang sama tidak menggandakannya.
Puncaknya ada di Inba' al-Ghumr karya Ibn Hajar (w. 852 H) juz 3 halaman 376:
بن مطاعن بن عبد الكريم بن عابس بن حسين بن سلمان بن علي بن عبد الله بن محمد بن محمد بن موسى
Di satu baris itu Isa (14) menjadi Abis, Sulaiman (12) menjadi Salman, dan Muhammad (9) ditulis dua kali.
Ada juga kontradiksi yang meluber ke nama lain. Al-Ashili (w. 709 H) menaikkan Ali (11) langsung kepada Abdullah (10) lalu Muhammad al-Tsa'ir (9), sedangkan Umdat al-Thalib (w. 828 H) menyisipkan Muhammad Tsa'lab dan Abdullah al-Akbar di antara keduanya.
Nomor 9 sampai 11 pada silsilah Raja Yordania sekarang mengikuti bacaan al-Ashili, dan dua nama tambahan versi Umdah itu tidak ada di dalamnya. Padahal keduanya sama-sama kitab nasab, dan Umdat al-Thalib justru yang paling sering dipakai orang untuk membuktikan ruas ini. Dua kitab ini ternyata berselisih dua generasi.
Bahkan jumlah anaknya pun tidak sepakat.
Al-Ashili juz 1 halaman 102 menyebut Sulaiman (12) berketurunan dari empat orang, yaitu Muhammad al-Azraq, Ahmad, Ibrahim, dan Husain. Sedangkan al-Tsabt dan Umdat al-Thalib sama-sama menyebut tiga orang.
Kesimpulan
Dan itu semua baru sampai Qatadah yang wafat sekitar 617 H, lho. Masih ada tujuh abad lagi menuju Raja Yordania sekarang. Bahkan gelar Amir Makkah untuk Idris (17), ayah Qatadah, tidak berhasil saya temukan di halaman-halaman yang saya periksa.
Ki Imad sendiri yang teguh berkeyakinan bahwa Abdullah atau Ubaidillah adalah tokoh fiktif karena tidak tercatat dari masa ke masa, dan oleh karena itu ia batalkan, sekaligus meyakini bahwa Bani Qatadah inilah yang paling rapi.
Tapi jika memakai cara itu, maka Bani Qatadah juga punya masalah yang sama, bahkan bisa lebih berat: tidak ada kitab nasab semasa yang mencatatnya, saksi pertama datang dari kitab tarajim lewat diktean saudara kandungnya sendiri (berarti sumber internal), dan kitab nasab pertama yang menyebutkannya justru membuang salah satu nama.
Silsilah semacam inilah yang disebut Ki Imad terverifikasi kitab abad keempat sampai kelima belas, dan dijadikan sampel paling sahih untuk Y-DNA Imam Ali bin Abi Thalib.
