Traktir Kopi

Menjawab Pesantren Nahdlatul Ulum yang Menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang

Bani Alawi dikenal di Indonesia dengan panggilan "Habib". Konon, nasabnya tidak tersambung sampai Baginda Nabi.

ilustrasi
(dibuat oleh: Gemini)

Ada artikel menarik di RMINU Banten yang ditulis pada 2 September 2026 silam, judulnya: "Pesantren Nahdlatul Ulum Banten Menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba'alwi".

Di sana tertulis dengan sangat eksplisit, bahwa untuk memastikan lineage-path Imam Ali harus memakai sampel dari Raja Yordania:

Tidak ada kitab nasab dari mulai abad ke-3-15 Hijriyah yang tidak mencatat nama-nama yang ada dalam silsilah keluarga Kerajaan Yordania. Maka, sampel Y-DNA-nya bisa dijadikan acuan bagi keluarga lainnya yang gagal dalam uji petik kitab nasab.

Perlu diketahui bahwa penulis artikel tersebut bernama Imaduddin. Ia dikenal sebagai orang yang membatalkan nasab Bani Alawi, kabilah asal Hadlramaut yang di Indonesia dipanggil dengan julukan "Habib".

Leluhur Bani Alawi, menurut Imaduddin, punya masalah di Abdullah bin Ahmad bin Isa. Ayahnya, yaitu Ahmad al-Abah, hanya tercatat memiliki anak bernama Muhammad, Ali, dan Husain sepanjang abad kelima hingga kedelapan.

Sementara Abdullah baru tertulis sebagai anak Ahmad bin Isa pada abad kesembilan, persisnya di kitab al-Burqat al-Musyiqah yang ditulis Ali bin Abi Bakr al-Sakran (w. 895 H).

Pertanyaannya...

Kalau kriteria Imaduddin dipakai konsisten, apakah silsilah Bani Qatadah, kabilah Raja Yordania sekarang, bisa lolos?

Jawaban singkat saya: tidak!

Justru nasab Bani Qatadah punya masalah yang sama dengan Bani Alawi.

Jika Bani Alawi memiliki Abdullah bin Ahmad bin Isa, maka Bani Qatadah memiliki Sulaiman (7), Husein (6), Isa (5), dan Abdul Karim (4).

Bagi yang belum tahu, sebagaimana "Bani Alawi" berarti keturunan Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Isa, sebutan "Bani Qatadah" muncul karena mereka keturunan Qatadah, amir Makkah yang merebut kota itu pada 597 H dan wafat pada 617 H.

Dari garis inilah Raja Yordania menarik nasabnya.

Silsilahnya, jika dihitung dari Qatadah, akan seperti ini: Qatadah (1) bin Idris (2) bin Mutha'in (3) bin Abdul Karim (4) bin Isa (5) bin Husein (6) bin Sulaiman (7) bin Ali (8) bin Abdullah al-Akbar (9).

Kriteria Imaduddin, kalau saya pecah, sebetulnya bisa menjadi tiga pertanyaan yang bisa diajukan kepada marga mana pun.

Pertama, kapan nama itu pertama kali tertulis di dalam kitab nasab? Kedua, apakah kitab sezaman yang mendaftar saudara-saudaranya menyebut dia? Ketiga, apakah sumber tertuanya berasal dari luar keluarga yang diuntungkan oleh catatan itu?

Baru Muncul Kapan?

Tujuh nama pertama, dari Qatadah (1) sampai Sulaiman (7), ternyata baru ditulis serapi itu oleh kitab nasab yang disusun seorang ahli nasab yang wafat pada abad kedelapan Hijriyah.

Kitab itu berjudul al-Ashili fi Ansab al-Thalibiyyin karya Ibnu al-Thaqthaqi (w. 709 H). Pada halaman 102 ia menulis:

وأمّا سليمان بن علي ابن السلميّة، فأعقب من أربعة رجال: محمّد الأزرق، وأحمد، وإبراهيم، والحسين

Adapun Sulaiman bin Ali Ibn al-Salmiyyah, ia berketurunan dari empat lelaki: Muhammad al-Azraq, Ahmad, Ibrahim, dan al-Husain.

Lalu turun satu tingkat:

وأمّا الحسين بن سليمان، فعقبه من ثلاثة رجال: أبو البشر الضحّاك، وعلي، وعيسى

Adapun al-Husain bin Sulaiman, keturunannya dari tiga lelaki: Abu al-Bisyr al-Dhahhak, Ali, dan Isa.

Turun lagi:

وأما عيسى بن الحسين بن سليمان، فله ستّة أولاد: جعفر، وأبو الحسين، وعبد اللّه، والحسين، وسريع، وعبد الكريم

Adapun Isa bin al-Husain bin Sulaiman, ia punya enam anak: Ja'far, Abu al-Husain, Abdullah, al-Husain, Sari', dan Abdul Karim.

Lalu tiga tingkat terakhir, secara berturut-turut:

ولعبد الكريم ولدان: عبد اللّه، ومطاعن

Abdul Karim punya dua anak: Abdullah dan Mutha'in.

وأمّا مطاعن بن عبد الكريم، فعقبه من ولديه: ثعلب، وإدريس

Adapun Mutha'in bin Abdul Karim, keturunannya dari dua anaknya: Tsa'lab dan Idris.

وأمّا إدريس بن مطاعن، فله ثلاثة أولاد، شبرقة، والحسين، وقتادة أبي عزيز

Adapun Idris bin Mutha'in, ia punya tiga anak: Syabraqah, al-Husain, dan Qatadah Abu Aziz.

Tapi ada masalah di dalam tanggalnya. Begini penjelasannya:

Sulaiman (7) itu diperkirakan hidup sekitar 385 H, dan kitab yang menyebutnya ditulis oleh orang yang wafat 709 H. Jaraknya sekitar 324 tahun.

Kemudian untuk Husein (6) jaraknya 294 tahun, Isa (5) 263 tahun, Abdul Karim (4) 232 tahun, Mutha'in (3) 201 tahun, Idris (2) 170 tahun, dan Qatadah (1) sendiri 139 tahun.

Mungkin bakal ada yang akan berkata bahwa Qatadah (1) itu tokoh terkenal yang tercatat semasa hidupnya, dan itu benar. Al-Manshur billah, imam Zaidiyah yang wafat 614 H, tiga tahun sebelum Qatadah wafat, menulis dalam kumpulan risalahnya:

سأل السيد الشريف الأمير أبو عزيز قتادة بن إدريس أعزّه اللّه تعالى عن أرض أجلي أهلها عنها ثم ادّعاها قوم ولا بينة لهم عادلة على صحة دعواهم

Tuan Syarif Amir Abu Aziz Qatadah bin Idris, semoga Allah memuliakannya, bertanya tentang tanah yang penduduknya diusir darinya lalu diklaim oleh suatu kaum tanpa bukti yang adil atas kebenaran klaim mereka.

Ibnu al-Atsir (w. 630 H) juga mencatat kematiannya dalam al-Kamil fi al-Tarikh:

في هذه السنة، في جمادى الآخرة، توفّي قتادة بن إدريس العلويّ، ثمّ الحسنيّ، أمير مكّة، حرسها اللَّه، بها، وكان عمره نحو تسعين سنة

Pada tahun ini, di bulan Jumada al-Akhirah, wafat Qatadah bin Idris al-Alawi kemudian al-Hasani, amir Makkah, di sana; usianya sekitar sembilan puluh tahun.

Namun kedua informasi tersebut hanya menyebut Qatadah bin Idris saja. Tidak dijelaskan Qatadah bin Idris ini apakah bin Mutha'in (3), ataukah bin orang lain.

Jika memang yang dimaksudkan adalah leluhur raja Yordania sekarang, apa bukti semasa yang menyambungkan Qatadah bin Idris ini kepada Mutha'in (3)?

Ditambah, keduanya bukanlah kitab nasab. Yang pertama merupakan kompilasi surat, sementara yang kedua adalah kitab sejarah.

12 Anak

Seperti yang telah saya sebutkan, jika Bani Alawi punya Abdullah bin Ahmad bin Isa, maka Bani Qatadah punya Sulaiman (7). Coba perhatikan bagaimana nama ini ditulis dengan cukup problematik oleh kitab-kitab yang lebih tua.

Tahdzib al-Ansab karya al-Ubaidili (w. 435 H) mendaftar keturunan Abdullah al-Akbar (9), kakek Sulaiman (7):

والعقب من ولد عبد الله بن محمد الأكبر بن موسى بن عبد الله الثاني بن موسى الجون من ثلاثة نفر: علي بن عبد الله وله أولاد، ومحمد بن عبد الله، يلقب ثعلبا قتل، وله ولد [له] أولاد، وأحمد بن عبد الله وله أولاد

Keturunan Abdullah bin Muhammad al-Akbar bin Musa bin Abdullah al-Tsani bin Musa al-Jun berasal dari tiga orang: Ali bin Abdullah dan ia punya anak-anak; Muhammad bin Abdullah yang berjuluk Tsa'lab, ia terbunuh dan punya seorang anak yang punya anak-anak; dan Ahmad bin Abdullah dan ia punya anak-anak.

Ali (8) memang ada di situ. Anak-anaknya disebut ada, tetapi tidak satu pun diberi nama. Jadi di kitab abad kelima, nama Sulaiman (7) tidak muncul sebagai anak Ali (8).

Sekitar 180 tahun kemudian keadaannya pun belum berubah. Al-Fakhri karya al-Azwarqani (w. 614 H), yang ditulis justru ketika Qatadah (1) sedang berkuasa di Makkah, menulis begini:

وأما عبد اللّه بن محمد الأكبر بن موسى الثاني، فله ثلاثة معقبون: علي له اثنا عشر ابنا أعقب منهم عشرة وذيلوا. وأحمد له عقب بينبع. ومحمد المعروف بـ«تغلب» وقيل: ثعلب، له ذيل طويل

Adapun Abdullah bin Muhammad al-Akbar bin Musa al-Tsani, ia punya tiga anak yang berketurunan: Ali, ia punya dua belas anak, sepuluh di antaranya berketurunan dan beranak pinak; Ahmad, keturunannya di Yanbu'; dan Muhammad yang dikenal sebagai Taghlib, ada yang berkata Tsa'lab, ia punya keturunan panjang.

Ia mencatat Ali (8) punya 12 anak, dan 10 di antaranya berketurunan, namun tidak satu pun diberi nama. Sulaiman (7), yang dibutuhkan silsilah Yordania sebagai salah satu dari dua belas anak itu, tidak ditulis di sana.

Kemudian kitab al-Syajarah al-Mubarakah, jika benar ditulis Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), yang juga ditulis persis ketika Qatadah (1) berkuasa di Makkah, berhenti pada dua tokoh yang juga disebut al-Ashili:

وأما عبد الله الأصغر، فله عقب بمكة وينبع، منهم: الفقيه أبو البشر ابن الحسين بن علي بن عبد الله الأصغر، وابنه جعفر الزاهد العالم النسابة بمكة

Adapun Abdullah al-Ashghar, ia punya keturunan di Makkah dan Yanbu', di antaranya: al-Faqih Abu al-Bisyr bin al-Husain bin Ali bin Abdullah al-Ashghar, dan anaknya Ja'far sang zahid, alim, ahli nasab di Makkah.

Cukup musykil jika kitab nasab yang semasa dengan Qatadah (1) tidak menulis leluhur penguasa Makkah yang berkuasa sejak 597 Hijriyah itu.

Kendati demikian, coba saya sandingkan kedua kitab nasab tersebut dengan al-Ashili.

Al-Syajarah menulis Abdullah (9), yang di kitab ini disebut al-Ashghar bukan al-Akbar, lalu Ali (8), Husein (6), kemudian Abu al-Bisyr yang menurut al-Ashili adalah saudara Isa (5), dan anaknya Ja'far.

Sementara al-Fakhri hanya sampai Abdullah (9) dan Ali (8), lalu hanya menyebut 12 anak tanpa satu pun diberi nama.

Adapun al-Ashili menulis kesembilan namanya berturut-turut: Abdullah al-Akbar (9), Ali Ibn al-Salmiyyah (8), Sulaiman (7), al-Husain (6), Isa (5), Abdul Karim (4), Mutha'in (3), Idris (2), dan Qatadah (1).

Jadi ketika Qatadah (1) sedang berkuasa di Makkah, maka ada enam nama yang tidak ditulis oleh kedua kitab nasab yang semasa dengannya: Sulaiman (7), Isa (5), Abdul Karim (4), Mutha'in (3), Idris (2), dan Qatadah (1) sendiri.

Padahal, seluruh nama ini adalah penopang rantai nasab Yordania.

Ada pula kontradiksi susunan, yaitu ketika al-Syajarah menulis Husein (6) langsung sebagai anak Ali (8), bukan anak Sulaiman (7) bin Ali. Sementara al-Fakhri, Husein (6) bahkan tidak muncul sama sekali.

Pernah Dinyatakan Punah

Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A'qab karya Zhahiruddin al-Baihaqi (w. 565 H) memuat bab berjudul "mereka yang mati punah dan tidak berketurunan dari kalangan Thalibiyin."

Di dalamnya tertulis:

عبد الله بن محمد بن موسى الثاني، لا عقب له بالاتفاق

Abdullah bin Muhammad bin Musa al-Tsani: tidak ada keturunan baginya, menurut kesepakatan.

Dan beberapa baris sesudahnya, tentang ayahnya:

محمد بن موسى بن عبد الله بن موسى الجون، كان له عقب بالتمام ثم انقرضوا

Muhammad bin Musa bin Abdullah bin Musa al-Jun: ia dahulu punya keturunan yang lengkap, kemudian mereka punah.

Yang pertama menunjuk Abdullah al-Akbar (9). Yang kedua menunjuk ayahnya, Muhammad al-Tsa'ir (10).

Dan perlu diketahui bahwa kitab itu selesai 32 tahun sebelum Qatadah (1) merebut Makkah, dan ditulis seorang sejarawan Naisabur yang tidak punya urusan apa pun dengan keluarga amir Hijaz.

Namun tepat di sinilah permasalahannya.

Ketika Imaduddin menyatakan bahwa Abdullah bin Ahmad bin Isa fiktif hanya karena tidak disebut di dalam kitab yang semasa dengannya, ternyata yang ada di Bani Qatadah tidak hanya kesunyian pencatatan, melainkan pernyataan tertulis dari ahli nasab bahwa garis itu sudah terputus "menurut kesepakatan".

Sudah Ditulis

Memang ada yang menulis rantai lengkap ini sebelum al-Ashili, dan kebetulan sumbernya jauh lebih dekat ke zaman Qatadah (1).

Kitab itu berjudul al-Takmilah li-Wafayat al-Naqalah karya Zakiyuddin al-Mundziri (w. 656 H), sekitar 53 tahun lebih tua daripada al-Ashili dan hanya 39 tahun sesudah Qatadah wafat.

Penulisnya bahkan menjadi saksi mata. Ia menulis "aku melihatnya di sana sedang bertawaf di Ka'bah."

Pada jilid 3 halaman 17, entri nomor 1749, ia menulis:

وفي أواخر جمادى الآخرة توفي الشريف الأجل أبو عزيز قتادة ابن الشريف الأجل أبي مالك إدريس بن مطاعن بن عبد الكريم بن عيسى بن حسين بن سليمان بن علي بن عبد الله بن محمد بن موسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسين بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب -عليهم السلام- القرشي الهاشمي العلوي الحسني، بمكة شرفها الله تعالى ويقال: إنه بلغ تسعين سنة

Pada akhir Jumada al-Akhirah wafat al-Syarif al-Ajall Abu Aziz Qatadah bin al-Syarif al-Ajall Abu Malik Idris bin Mutha'in bin Abdul Karim bin Isa bin Husain bin Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Muhammad bin Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah bin al-Husain bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, al-Qurasyi al-Hasyimi al-Alawi al-Hasani, di Makkah; dikatakan usianya mencapai sembilan puluh tahun.

Dari Qatadah (1) sampai Abdullah al-Akbar (9), rantai ini cocok dengan silsilah Raja Yordania sekarang.

Akan tetapi, informasi ini punya lima masalah.

Masalah yang sama yang saya lihat dipakai Imaduddin ketika menolak al-Burqat al-Musyiqah yang ditulis Ali bin Abi Bakr al-Sakran dan al-Suluk fi Thabaqat al-Ulama wa al-Mulk karya al-Janadi (w. 732 H)

Pertama, al-Takmilah bukanlah kitab nasab.

Sebagaimana judul aslinya, ia merupakan kitab wafayat, yaitu catatan kematian para pembawa hadis, bukan kitab yang sengaja disusun untuk mendata garis keturunan.

Ini persis dengan penolakan Imaduddin pada al-Suluk, kitab sejarah yang ditulis al-Janadi yang menyebut Ahmad bin Isa memiliki anak bernama Abdullah, dan penolakan pada al-Burqat al-Musyiqah karena menulis Abdullah di dalam al-Suluk sebagai nama lain dari Ubaidillah.

Kedua, sumber al-Mundziri berasal dari saudara kandung Qatadah (1) sendiri, yaitu Abu Musa Isa bin Idris (2).

Di akhir entri, al-Mundziri menulis:

وقدم مصر غير مرة. أملى علي نسبه كما ذكرته أخوه الشريف الأجل أبو موسى عيسى بن إدريس حين قدم مصر

Ia datang ke Mesir lebih dari sekali. Nasabnya didiktekan kepadaku sebagaimana aku menuliskannya oleh saudaranya, al-Syarif al-Ajall Abu Musa Isa bin Idris, ketika ia datang ke Mesir.

Dalam istilah ilmu nasab: ini bukanlah syahadah seorang ahli nasab eksternal, melainkan iqrar, yaitu pengakuan sebuah keluarga tentang dirinya sendiri yang kebetulan disalin oleh ulama Mesir yang menyebut sumbernya.

Ketiga, pemberi informasi sendiri tidak tercatat di kitab nasab.

Qatadah (1) wafat pada 617 H menurut al-Mundziri. Kitab nasab yang paling mendekati masa hidupnya adalah al-Ashili, yang ditulis pada 698 H oleh Ibnu al-Thaqthaqi (w. 709 H), dan masih aktif diperbarui sampai 700 H.

Namun ketika menulis keturunan Idris (2), al-Ashili hanya menerangkan bahwa anaknya ada tiga, dan Isa tidak ada di sana:

وأمّا إدريس بن مطاعن ، فله ثلاثة أولاد ، شبرقة ، والحسين ، وقتادة أبي عزيز . ولشبرقة : علي وكان قاضيا بالمدينة . وللحسين بن إدريس : إدريس

Idris bin Mutha'in punya tiga anak: Syabraqah, al-Husain, Qatadah Abu Aziz. Syabraqah punya anak Ali, kadi di Madinah. Al-Husain bin Idris punya anak bernama Idris.

Ahli nasab belakangan, yaitu Ibn Inabah (w. 828 H) di dalam Umdat al-Thalib, hanya menyebutkan bahwa Qatadah memiliki saudara dan paman, namun tidak ditulis siapa saja nama mereka.

Mungkin benar Isa adalah saudara Qatadah (1) yang dimaksudkan Ibn Inabah, akan tetapi cukup mustahil ketika informasi tentang penguasa Makkah sudah mapan ratusan tahun, namun nama Isa yang mendiktekan nasab itu kepada al-Mundziri justru bisa dilewatkan Ibn Inabah.

Keempat, meskipun diterima, ia bertabrakan dengan kitab yang lebih tua.

Tahdzib al-Ansab karya al-Ubaidili (w. 435 H) mendaftar keturunan kakek Sulaiman (7) secara menyeluruh, lalu untuk ayahnya, Ali (8), hanya menulis bahwa ia punya anak-anak, tanpa satu nama pun.

Kitab al-Fakhri (614 H), yang sezaman dengan Qatadah (1), menulis Ali (8) punya 12 anak, dan 10 di antaranya berketurunan, juga tanpa satu nama.

Kitab al-Syajarah al-Mubarakah (606 H) menelusuri jalur yang sama sampai ke tokoh yang sama di ujungnya, dan tidak menyebutkan nama Sulaiman (7).

Dan seperti yang sudah saya kutip di atas, Lubab al-Ansab (565 H) bahkan menempatkan Abdullah al-Akbar (9) di dalam bab tokoh yang tidak berketurunan.

Jika al-Syajarah al-Mubarakah diklaim Imaduddin menutup celah memasukkan nama anak Ahmad bin Isa selain Muhammad, Ali, dan Husain, padahal tidak ada pernyataan eksplisit bahwa tiga itu saja keturunannya, maka Lubab al-Ansab merupakan pembatalan yang jauh lebih eksplisit.

Kelima, meskipun diterima, silsilahnya bertentangan dengan ahli nasab lain.

Al-Mundziri menulis 16 mata rantai dari Qatadah (1) sampai Ali bin Abi Thalib, sedangkan versi Istana Yordania hanya menulis 15 mata rantai.

Selisihnya ada pada Abdullah bin Husain bin Hasan bin Hasan, yaitu adanya seorang bernama Husain antara Abdullah al-Mahd dan al-Hasan al-Mutsanna.

Padahal seluruh kitab nasab sepakat bahwa Abdullah al-Mahd adalah anak langsung al-Hasan al-Mutsanna.

Keenam, meskipun diterima, ia tetap terlambat 271 tahun.

Yang dibuktikan al-Mundziri sebetulnya satu hal saja: Qatadah bin Idris adalah tokoh yang nyata, dan untuk itu kesaksiannya kuat.

Tetapi rantai di atas Qatadah (1) bukanlah sesuatu yang al-Mundziri saksikan.

Di samping itu, sebelum ia menulis al-Takmilah, tidak ada satu pun kitab nasab yang memuat Sulaiman (7) sampai Idris (2). Tiga kitab nasab yang terbit sebelum al-Mundziri hanya menulis sampai Ali (8) saja.

Tahdzib al-Ansab (435 H) hanya menulis Ali punya beberapa anak tanpa satu nama, al-Fakhri (614 H) menulis dua belas anak juga tanpa satu nama, dan al-Syajarah al-Mubarakah (606 H) membelokkan garisnya ke cabang lain.

Sesudah Ali (8), kitab nasab tidak menulis nama siapa pun selama 221 tahun.

Lalu tiba-tiba pada 656 H ada tujuh nama muncul sekaligus dari al-Mundziri, itupun berasal dari sumber internal yang mengklaim sebagai keturunan Ali (8).

Andaikan persaksian al-Mundziri kita benarkan, maka Ali (8) kita anggap sudah tercatat 81 tahun sesudah ia diperkirakan hidup, akan tetapi anaknya sendiri, Sulaiman (7), tetap saja baru tercatat 271 tahun sesudahnya.

Kesimpulan

Kalau tiga pertanyaan tadi diajukan kepada silsilah Raja Yordania sekarang, kira-kira hasilnya begini:

Tujuh nama teratas baru tertulis di kitab nasab pada 709 H, dua kitab nasab yang hidup sezaman dengan Qatadah (1) tidak memuat enam dari sembilan nama itu, satu kitab nasab abad keenam justru menyatakan Abdullah al-Akbar (9) tidak berketurunan, dan rantai lengkap tertua yang ada sekarang ternyata berasal dari informasi internal yang dicatat ulama Mesir.

Silsilah semacam inilah yang disebut Ki Imad terverifikasi kitab abad keempat sampai kelima belas, dan dijadikan sampel paling sahih untuk Y-DNA Imam Ali bin Abi Thalib.

---